Puluhan petani Bantarsari Cilacap demo pertahankan lahan garapan

Puluhan petani berunjuk rasa mempertahankan lahan garapan di Desa Bantarsari, Kecamatan Bantarsari, Kabupaten Cilacap, Senin (18/9). Menduduki tanah garapan seluas 80 ubin atau 1.175 meter persegi, para petani meluapkan kekecewaan dan rasa duka bakal kehilangan lahan garapan.

gabungsaja.com
Puluhan petani Bantarsari Cilacap demo pertahankan lahan garapan


Gabungsaja.com - Pemkab Cilacap pun dinilai abai mempertimbangkan peluh keringat petani merawat lahan sejak tahun 1960-an. Bahkan kerja keras mereka memproduktifkan lahan yang sebelumnya terbengkalai tersebut, ditukar dengan kompensasi tak masuk akal.


Para petani pun berunjuk rasa sembari mengusung spanduk bertuliskan "Lemah Setlapak Ngebeki Telak" di antara rimbunan tanaman kangkung. Maksud isi spanduk itu, petani ingin menegaskan bahwa lahan garapan mereka yang minim merupakan tempat bergantung menyambung hidup. Lahan itu pun terancam hilang, karena akan ditimbuni tanah untuk pengembangan Puskesmas desa setempat.

"Saya orang bodoh. Tapi bisa itung-itungan. Orang tua saya menggarap lahan ini sejak tahun 60-an. Saya tidak menentang pembangunan pemerintah. Saya hanya ingin nasib kami diperhatikan dan kompensasi jerih payah kami garap lahan. Masak Rp 70.000 per-ubin," kata Nasem (65) salah satu petani penggarap lahan.

Dijelaskan Nasem, di lahan seluas 80 ubin yang akan ditimbuni tanah untuk pengembangan Puskesmas itu, ada 5 petani penggarap. Kompensasi kepada mereka awalnya disiapkan Rp 6 juta lalu dinaikkan Rp 8 juta. Bagi Nasem, kompensasi tersebut terlalu kecil.

Petani yang lain, Jaman bercerita unjuk rasa dilakukan puluhan petani sebagai solidaritas bagi 5 petani Bantarsari yang terancam kehilangan tanah garapan. Di Bantarsari sendiri ia katakan ada 84 hektare tanah bekas kebun karet yang sejak tahun 60-an digarap warga. Tanah ini tahun 2000 sempat akan diserahterimakan kepada petani dengan syarat membayar Rp 10 juta per 100 ubin.

"Saat itu kami minta pertimbangan untuk bisa mencicil ke pemerintah. Tapi sampai sekarang tidak ada kejelasan. Melihat kondisi saat ini, kami bisa saja mengalami hal sama kehilangan tanah garapan seperti 5 teman kami," ujar Jaman.

Terkait kompensasi pun, Jaman menilai seakan tak mempertimbangkan kebutuhan hidup petani. Ia bercerita sebelumnya lahan garapan di antara mereka sudah pernah diperuntukkan pembangunan tapi dengan kompensasi lebih tinggi antara Rp 200.000 sampai Rp 250.000. Tapi saat ini, justru kompensasi semakin kecil yakni 6 juta untuk 80 ubin yang berarti 5 petani penggarap hanya dapat kurang dari 1 juta per-orang atau per-ubin dihargai kurang dari Rp 100 ribu.


BANDAR757 Agen Sakong Judi BandarQ Domino99 Bandar Poker Online Terpercaya

SejarahQQ.net Agen DominoQQ Online BandarQ Terpercaya

BORNEOPOKER.COM BANDAR POKER ONLINE SERTA BANDAR Q ONLINE TERPERCAYA DI INDONESIA

BANDARQQ365.COM SITUS BANDARQ, BANDAR POKER, DOMINOQQ, ADU Q, POKER ONLINE, SAKONG ONLINE TERPERCAYA

INCARQQ.NET AGEN POKER, BANDAR Q, DOMINOQQ, ADUQ, SAKONG, BANDAR POKER, CAPSA ONLINE TERPERCAYA

Remi13 Agen Sakong Judi BandarQ Capsa Susun Bandar Poker Online Indonesia

LENTERAPOKER AGEN BANDARQ DAN BANDAR SAKONG ONLINE TERPERCAYA DI INDONESIA

TUANPOKER AGEN JUDI POKER ONLINE RESMI UANG ASLI TERPERCAYA DI INDONESIA

Komentar